This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 6 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

6.15.2014

Tradisi Turunnya Berita Gembira Sepanjang Masa (Bagian 2)

Dengan demikian, hubungan kemanusiaan telah berkembang semakin tinggi dari sekadar hubungan matrelialis ke hubungan spritual.
Dan setelah terbitnya masa kenabian, perselisihan yang berkembang di kalangan manusia adalahh perselisihan di dalam makna
(Spritual) dan perselisihan di dalam agama dan keyakinan. Sesungguhnya sebab - sebab konflik tidak begitu saja padam dengan
adanya agama yang dibawa oleh para nabi, namun konflik tetap berlangsung dan semakin komplek. Hanya saja, dalam hal ini
naluri tidak lag menjadi rujukan, namun hukum (undang - undang) yang menjadi referensi. Dan hukum yang meliputi agama menjadi
kaidah yang tetap bagi persatuan dan kerjasamanya dan kesempurnaan manusia.

    Dalam khotbah pertama Nahjul - Balaghah, Imam Ali bin Abi Thalib as menjelaskan--setelah mengemukakan sejarah
penciptaan dunia dan sejarah penciptaan Adam as dan penetapannya di bumi--bahwa kenabian dan mata rantainya merupakan poros
sejarah manusia sepanjang masa dan gerakannya menuju kesempurnaan sebagaimana ditegaskan oleh al-Quran saat menjelaskan
pandangannya mengenai sejarah.

    Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, "Allah Swt memilih para nabi dari keturunan Adam as. Dia menjadikan wahyu
sebagai perjanjuan mereka, dan menjadkan penyampaian risalah sebagai amanat atas mereka. Sebab, sebagian besar hamba - Nya
telah mengubah perjanjian Allah atas mereka. Sehingga mereka melupakan hak - NyA dan menjadikan banyak sekutu bagi - Nya,
dan para setan menghalangu mereka dari mengenal - Nya dan memalingkan mereka dari ibadah kepada - Nya.

Tradisi Turunnya Berita Gembira Sepanjang Masa (Bagian 1)



Al - Quran menegaskan bahwa masa sejarah manusia telah dimulai dari fenomena kenabian dan pengutusan 
para nabi dan rasul. Para utusan Allah itu telah memimpin masyarakat mereka menuju kehidupan yang lebih 
baik dan menciptakan insan kamil. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa kemunculan para nabi as 
di tengah - tengah masyarakat manusia merupakan permulaan sejarah manusia. Allah Swt berfirman,

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi 
sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka 
Kitab dengan benar untuk memberi keputsan di antara manusia tentang perkara yang mereka 
perselisihkan.
Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang - orang yang telah didatangkan kitab kepada 
mereka, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan - keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang - orang yang beriman kepada kebenaran 
tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak - Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk 
orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS.al-Baqarah:213)

Sesuai dengan hikmah dan rahmat Allah, diutuslah para nabi yang membawa pelita petunjuk kepada manusia Dengannya mereka mengeluarkan manusia dari tahapan insting (ghazirah) ke tahapan akal, dan dari logika kekerasan yang sumbernya adalah naluri dan kekuatan menuju logika sistem yang sumbernya adalah hukum. Melalui kenabian, masyarakat melepaskan diri dari belenggu kebinatangan dan menjadi fenomena logis dan spritual. Kenabian mewujudkan proyek persatuan bagi manusia yang nilainya lebih tinggi dari sekadar kesatuan darah biologis mereka. Yaitu persatuan yang tegak di atas pondasi akidah (keyakinan).

6.14.2014

Ulama Sunni dan Syiah Irak Menyeru Rakyat Lawan ISIS

ISIS

Lebih lanjut ditegaskannya, Ahlus Sunnah Irak berada disamping tentara dan aparat keamanan Irak dan akan bangkit melawan siapapun yang hendak mencabik-cabik Irak menjadi beberapa bagian.

Organisasi Ulama Irak Basrah dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa Ahlus Sunnah Irak menolak eksistensi ISIS sebagai bagian dari Sunni, dan menegaskan dukungannya kepada tentara dan integritas Irak.

Pernyataan itu diutarakan oleh Syekh Mohammad Amin, salah satu anggota organisasi ulama Sunni Irak pada Sabtu, 14/06/14.

"Irak saat ini menjadi target serangan Takfiri sesat. Mereka berusaha merebut sebagian wilayah dan menyebar luaskan terorisme dari Irak ke semua negara Arab," katanya.

Ulama Sunni Irak itu menambahkan, "Adalah ilusi, anggapan bahwa kelompok teroris ini (ISIS) terkait dengan Ahlus Sunnah. Bagaimana bisa kelompok ini dikatakan sebagai Ahlus Sunnah, dan perbuatannya disebut sebagai kudeta Ahlus Sunnah, sementara di Mosul mereka banyak membunuh dan mengusir warga Sunni."

Lebih lanjut ditegaskannya, Ahlus Sunnah Irak berada disamping tentara dan aparat keamanan Irak dan akan bangkit melawan siapapun yang hendak mencabik-cabik Irak menjadi beberapa bagian.

"Kapanpun tentara Irak menghendaki kami melepaskan jubah keagamaan, kami siap mengenakan baju perang,” tegas Syekh Mohammad Amin.

Sebelumnya, ulama Syiah kharismatik Irak Ayatollah Ali al-Sistani pada Jumat, 13/06/14, meminta rakyat Irak untuk mengangkat senjata melawan Takfiri ISIS dukungan Arab Saudi yang telah menguasai sebagian negara itu setelah meluncurkan serangan besar.

"Semua warga yang mampu harus memanggul senjata melawan teroris, membela negara, rakyat dan tempat-tempat suci. Mereka harus menjadi sukarelawan dan bergabung dengan pasukan keamanan untuk mencapai tujuan suci ini," kata wakil Ayatullah dalam sebuah pengumuman atas nama Sistani dalam Khutbah shalat Jumat di kota Karbala, Irak.

Grand Ayatollah Sistani membuat panggilan untuk mengangkat senjata melawan kelompok brutal Takfiri ISIS yang telah melakukan berbagai kejahatan terhadap rakyat Irak, termasuk Syiah, Sunni dan Kristen.

6.13.2014

Siapakah Imam Mahdi as Itu?




Menurut pendapat para ahli sejarah dan hadis, Imam Mahdi as dilahirkan pada malam Jumat, 15 Sya'ban 255 atau 256 H. Ayahanda beliau adalah Imam Hasan al-'Askari dan ibunda beliau—menurut beberapa riwayat—bernama Narjis, Shaqil, Raihanah, atau Susan. Akan tetapi, beragamnya nama yang dimiliki oleh ibunda beliau ini tidak mengindikasikan keberagaman diri sebagai seorang wanita. Karena, tidak menutup kemungkinan beliau memiliki nama-nama yang beragam sebagaimana layaknya orang-orang besar lainnya. [1] Tempat kelahiran beliau adalah Samirra`, sebuah kota besar di Irak dan pada masa kekhilafahan Bani Abbasiah pernah menjadi ibu kota kerajaan.
Silsilah nasab beliau secara terperinci adalah Muhammad al-Mahdi bin Hasan al-‘Askari bin Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad bin Ali ar-Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali as-Sajjad bin Husain as-Syahid bin Ali bin Abi Thalib as.
Kelahiran beliau adalah sebuah realita yang tidak dapat dipungkiri. Banyak sekali bukti historis dan tekstual yang menegaskan hal itu.
Imam Ja'far ash-Shadiq as berkata: “Tidak akan meninggal dunia salah seorang dari kami kecuali ia akan meninggalkan seseorang yang akan meneruskan missinya, berjalan di atas sunnahnya dan melanjutkan dakwahnya.” [2]
Hakimah, bibi Imam Hasan al-‘Askari as pernah menggendong beliau dan melihat di bahu sebelah kanannya tertulis “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah sirna”. (QS. Al-Isrâ`: 81).
Kurang lebih enam puluh lima ulama Ahlussunnah dalam buku-buku mereka juga menegaskan hal itu. Syeikh Najmuddin al-‘Askari dalam bukunya al-Mahdi al-Mau’ûd al-Muntazhar menyebutkan empat puluh nama mereka dan Syeikh Luthfullah ash-Shafi dalam bukunya Muntakhab al-Atsar menyebtukan dua puluh enam nama. [3] Di antara mereka adalah:
a.        Ali bin Husain al-Mas’udi. Ia menulis: “Pada tahun 260, Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as meninggal dunia pada masa kekhilafahan al-Mu’tamid al-Abbasi. Ketika meninggal dunia, ia baru berusia dua puluh sembilan tahun. Ia adalah ayah Mahdi al-Muntazhar.” [4]
b.       Syamsuddin bin Khalakan. Ia menulis: “Abul Qasim Muhammad bin Hasan al-‘Askari bin Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad adalah imam Syi’ah yang kedua belas. Julukannya yang terkenal adalah al-Hujjah. Syi’ah menjulukinya dengan al-Muntazhar, al-Qâ`im dan al-Mahdi. Ia dilahirkan pada hari Jumat, 15 Sya’ban 255. Ketika ayahnya meninggal dunia, usianya baru lima tahun. Nama ibunya adalah Khamth, dan menurut pendapat sebagian ulama, Narjis.” [5]
c.        Syeikh Abdullah asy-Syabrawi. Ia menulis: “Imam kesebelas adalah Hasan al-‘Askari. Ia lahir di Madinah pada tanggal 8 Rabi’ul Awal 232, dan pada tanggal 8 Rabi’ul Awal 260 meninggal dunia pada usia dua puluh delapan tahun. Cukuplah menjadi sebuah kebanggaan baginya bahwa ia adalah ayah Imam Mahdi al-Muntazhar ... Mahdi dilahirkan di Samirra` pada malam nishfu Sya’ban 255, lima tahun sebelum kewafatan ayahnya. Dari sejak dilahirkan, ayahnya selalu menyembunyikannya dari pandangan umum karena beberapa problem (yang  menuntut) dan kekhawatiran terhadap ulah para khalifah Abbasiah. Karena Bani Abbas selalu mencari-cari keluarga Rasulullah dan menjatuhkan hukuman terhadap mereka, membunuh atau menggantung mereka. Hal itu dikarenakan mereka berkeyakinan bahwa dinasti kerajaan mereka akan musnah di tangan keluarga Muhammad. Yaitu, di tangan Imam Mahdi as. Dan mereka mengetahui realita ini dari hadis-hadis yang mereka dengar dari Rasulullah SAWW.” [6]
d.       Syeikh Abd. Wahhab asy-Sya’rani. Ia menegaskan: “Mahdi adalah salah seorang dari putra-putra Imam Hasan al-‘Askari as. Ia dilahirkan pada malam nishfu Sya’ban 255. Ia hidup (hingga sekarang) sehingga ia berjumpa dengan Nabi Isa as (kelak).” [7]
e.        Syeikh Sulaiman al-Qunduzi al-Hanafi. Ia menulis: “Satu berita yang pasti dan paten di kalangan orang-orang yang dapat dipercaya adalah, bahwa kelahiran al-Qâ`im terjadi pada malam nishfu Sya’ban 255 di kota Samirra`.” [8]

Manipulasi Hadis

Ketika kita merujuk kepada buku-buku referensi hadis dan sejarah, yang kita dapati adalah, bahwa Imam Mahdi as adalah putra Imam Hasan al-‘Askari, sebagaimana hal itu dapat kita simak pada sekilas pembahasan di atas. Akan tetapi, kita akan menemukan satu hadis dalam buku-buku referensi Ahlussunnah yang berlainan dengan hadis-hadis tersebut. Di dalam hadis ini terdapat penambahan sebuah frase yang—mungkin—memang disengaja untuk memanipulasi dan menciptakan keraguan dalam menilai hadis-hadis tersebut.
Anehnya, sebagian orang memegang teguh satu hadis ini dan meninggalkan hadis-hadis lain yang lebih dapat dipercaya, mungkin karena hadis itu sejalan dengan ide dan kiprah politik-sosialnya.
Hadis itu adalah sebagai berikut:
عَنْ أَبِيْ دَاوُدَ، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زُرٍّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ (ص) أَنَّهُ قَالَ: "لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ يَوْمٌ وَاحِدٌ، لَطَوَّلَ اللهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ اللهُ رَجُلاً مِنِّيْ (أَوْ: مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ) يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِيْ وَ اسْمُ أَبِيْهِ اسْمَ أَبِيْ ، يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَ جَوْرًا."
Diriwayatkan dari Abu Daud, dari Zaidah, dari ‘Ashim, dari Zurr, dari Abdullah, dari Nabi saw bahwa beliau bersabda, “Seandainya tidak tersisa dari (usia) dunia ini kecuali hanya sehari, niscaya Allah akan memanjangkan hari itu hingga Ia membangkitkan seseorang dariku (dari Ahlulbaitku) yang namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku . Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi oleh kezaliman dan kelaliman.”
Hadis di atas tidak dapat kita jadikan pijakan, baik dari sisi sanad maupun dari sisi kandungan.
Dari sisi sanad, hadis ini diriwayatkan dari Zaidah. Jika kita merujuk kepada buku-buku ilmu Rijal, akan kita dapatkan bahwa semua nama Zaidah memiliki catatan negatif dalam sejarah hidupnya; Zaidah bin Sulaim adalah seorang yang tidak diketahui juntrungannya (majhûl), Zaidah bin Abi ar-Ruqad adalah seorang yang lemah (dha’îf), menurut Ziyad an-Numairi dan hadisnya harus ditinggalkan, menurut Bukhari, dan Zaidah bin Nasyid tidak dikenal kecuali melalui riwayat putranya darinya, menurut Ibnu al-Qatthan. Sementara Zaidah (dengan tidak disebutkan nama ayahnya), hadisnya harus ditinggalkan, menurut Abu Hatim dan hadisnya tidak bisa diikuti, menurut Bukhari, atau ia ahli dalam menyisipkan kata-kata baru ke dalam hadis, menurut sebagian ulama Rijal. [9]
Dari sisi kandungan, tidak hanya Zaidah yang meriwayatkannya dari jalur Zurr. Bahkan, ada beberapa jalur lain selaian Zaidah, dan hadis-hadis itu tidak memiliki tambahan “dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku”. Dari sini dapat diketahui bahwa tambahan frase tersebut adalah ulah tangan Zaidah. Di samping itu, hadis-hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw mengenai Imam Mahdi as tidak memiliki tambahan frase tersebut. Ditambah lagi ijmâ’ Muslimin yang menegaskan bahwa Imam Mahdi adalah putra Imam Hasan al-‘Askari as.
Al-Hâfizh al-Kunji as-Syafi’i menulis, “Semua hadis yang datang dari saw tidak memiliki tambahan frase ‘dan nama ayahnya sama dengan nama ayahu’. ... Tirmidzi telah menyebutkan hadis tersebut dan tidak menyebutkan frase ‘dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku’, dan di dalam kebanyakan hadis-hadis para perawi hadis yang dapat dipercaya hanya terdapat frase ‘namanya sama dengan namaku’. Pendapat penentu dalam hal ini adalah, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal dengan ketelitiannya telah meriwayatkan hadis tersebut di dalam Musnadnya di beberapa kesempatan, dan ia hanya menyebutkan frase ‘namanya sama dengan namaku’.” [10]
Yang perlu kita simak di sini adalah mengapa penambahan frase itu harus terjadi? Adakah tujuan tertentu di balik itu?
Minimal ada dua kemungkinan di balik penambahan frase tersebut:
Pertama , ada usaha untuk melegitimasi salah satu penguasa dinasti Abbasiah yang bernama Muhammad bin Abdullah. Ia memiliki julukan al-Mahdi, dan dengan hadis picisan tersebut mereka ingin mengaburkan opini umum tentang al-Mahdi yang sebenarnya.
Kedua , ada usaha untuk melegitimasi Muhammad bin Abdullah bin Hasan yang memiliki julukan an-Nafs az-Zakiyah (jiwa yang suci). Karena ia memberontak kepada penguasa Bani Abbasiah waktu itu, para pembuat hadis itu ingin memperkenalkannya—sesuai dengan kepentingan politis-sosialnya—kepada khalayak bahwa ia adalah al-Mahdi yang sedang ditunggu-tunggu. [11]

Kisah Kelahiran

Kisah kelahiran orang-orang besar selalu menyimpan rahasia dan misteri tersendiri. Betapa banyak peristiwa yang terjadi pada saat seorang agung lahir yang sungguh di luar kemampuan akal kepala kita untuk memahami dan “mempercayaninya”. Tapi, hal itu bukanlah seuatu hal yang aneh jika dikaitkan dengan kehendak Ilahi. Karena selama suatu peristiwa masih bersifat mungkin, bukan mustahil, hal itu masih berada di bawah ruang lingkup kehendak Ilahi meskipun termasuk kategori sesuatu yang aneh menurut akal kita.
Kisah kelahiran Imam Mahdi as adalah salah atu dari sekian kisah aneh (baca: ajaib) yang pernah terjadi di sepanjang sejarah manusia. Mari kita simak bersama.
Sayidah Hakimah binti Imam Muhammad al-Jawad as bercerita:
Abu Muhammad Hasan bin Ali (al-‘Askari) datang ke rumahku seraya berkata: “Wahai bibiku, berbuka puasalah di rumah kami malam ini. Malam ini adalah malam nishfu Sya’ban. Allah Ta’ala akan menampakkan hujjah-Nya di atas bumi pada malam ini.” “Siapakah ibunya?”, tanyaku “Narjis”, jawabnya singkat. “Sepertinya ia tidak memiliki tanda-tanda kehamilan?”, tanyaku lagi. “Hal itu akan terjadi seperti yang telah kukatakan”, katanya menimpali.
Setelah sampai di rumahnya, kuucapkan salam dan duduk. Tidak lama Narjis datang menemuiku untuk melepaskan sandalku seraya berkata: “Wahai junjunganku, izinkanlah kulepaskan sandal Anda.” “Tidak! Engkaulah junjunganku. Demi Allah, aku tidak akan mengizinkan engkau melepaskan sandalku dan berkhidmat kepadaku. Seharusnya akulah yang harus berkhidmat kepadamu”, tegasku. Abu Muhammad mendengar ucapanku itu. Ia berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan wahai bibiku.”
Kukatakan kepada Narjis: “Pada malam ini Allah akan menganugrahkan kepadamu seorang putra yang akan menjadikan junjungan di dunia dan akhirat.” Ia duduk sambil menahan malu.
Setelah selesai mengerjakan shalat Isya`, aku berbuka puasa dan setelah itu, pergi ke tempat tidur. Ketika pertengahan malam tiba, aku bangun untuk mengerjakan shalat. Setelah aku selesai mengerjakan shalat, Narjis masih tertidur pulas dan tidak ada kejadian khusus terhadap dirinya. Akhirnya aku duduk-duduk sambil membaca wirid. Setelah itu, aku terbaring hingga tertidur pulas. Tidak lama kemudian, aku terbangun dalam keadaan tertegun, sedangkan ia masih tertidur pulas. Tidak lama berselang, ia terbangun dari tidurnya dalam keadaan ketakutan. Ia keluar untuk berwudhu. Ia kembali ke kamar dan mengerjakan shalat. Ketika ia sedang mengerjakan rakaat witir, aku merasa bahwa fajar sudah mulai menyingsing. Aku keluar untuk melihat fajar. Ya, fajar pertama telah menyingsing. (Melihat tidak ada tanda-tanda ia akan melahirkan), keraguan terhadap janji Abu Muhammad mulai merasuki kalbuku. Tiba-tiba Abu Muhammad menegorku dari kamarnya: “Janganlah terburu-buru wahai bibiku. Karena janji itu telah dekat.” Aku merasa malu kepadanya atas keraguan yang telah menghantuiku. Di saat aku sedang kembali ke kamar, Narjis telah selesai mengerjakan shalat. Ia keluar dari kamar dalam keadaan ketakutan, dan aku menjumpainya di ambang pintu. “Apakah engkau merasakan sesuatu?”, tanyaku. “Ya, bibiku. Aku merasakan berat sekali”, jawabnya. “Ingatlah Allah selalu. Konsentrasikan pikiranmu. Hal itu seperti yang telah kukatakan padamu. Engkau tidak perlu takut”, kataku menguatkannya.
Lalu, aku mengambil sebuah bantal dan kuletakkannya di tengah-tengah kamar. Kududukkannya di atasnya dan aku duduk di hadapannya layaknya seorang wanita yang sedang menangani seseorang yang ingin melahirkan. Ia memegang telapak tanganku dan menekannya sekuat tenaga. Ia menjerit karena kesakitan dan membaca dua kalimat syahadah. Abu Muhammad berkata dari balik kamar: “Bacalah surah al-Qadr untuknya.” Aku mulai membacanya dan bayi yang masih berada di dalam perut itu menirukan bacaanku. Aku ketakutan terhadap apa yang kudengar. Abu Muhammad berkata lagi: “Janganlah merasa heran terhadap urusan Allah. Sesungguhnya Allah membuat kami berbicara dengan hikmah pada waktu kami masih kecil dan menjadikan kami hujjah di atas bumi-Nya ketika kami sudah besar.”
Belum selesai ucapannya, tirai cahaya menutupiku untuk dapat melihatnya. Aku berlari menuju Abu Muhammad sambil menjerit. “Kembalilah wahai bibiku. Engkau akan mendapatkannya masih di tempatnya”, katanya padaku.
Aku kembali. Tidak lama kemudian, tirai cahaya itu tersingkap. Tiba-tiba aku melihatnya dengan seunggun cahaya yang menyilaukan mataku. Kulihat wali Allah dalam kondisi sujud. Di lengan kanannya tertulis: “Telah datang kebenaran dan sirna kebatilan. Sesungguhnya kebatilan telah sirna”. Ia berkata dalam keadaan sujud: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, kakekku Muhammad adalah Rasulullah, dan ayahku Amirul Mukminin wali Allah.” Selanjutnya ia menyebutkan nama para imam satu-persatu hingga sampai pada dirinya. Kemudian, ia berdoa: “Ya Allah, wujudkanlah untukku apa yang telah Kau janjikan padaku, sempurnakanlah urusanku, kokohkanlah langkahku, dan penuhilah bumi ini karenaku dengan keadilan.” Setelah itu, ia mengangkat kepalanya seraya membaca ayat, “Allah bersaksi dalam keadaan menegakkan keadilan bahwa tiada tuhan selain Ia, dan begitu juga para malaikat dan orag-orang yang diberi ilmu. Tiada tuhan selian Ia yang Maha Perkasa nan Bijaksana. Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam”. (QS. Ali ‘Imran : 18-19) Kemudian, ia bersin. Ia berkata: “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga Allah mencurahkan shalawat atas Muhammad dan keluarganya. Orang-orang zalim menyangka bahwa hujjah Allah telah sirna.”
Aku menggendongnya dan mendudukknnya di pangkuanku. Sungguh anak yang bersih dan suci. Abu Muhammad berkata: “Bawalah putraku kemari wahai bibiku.” Aku membawanya kepadanya. Ia menggendongnya seraya memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya dan mengelus-elus kepala, kedua mata, telinga dan seluruh sikunya. Lalu, ia berkata kepadanya: “Berbicaralah wahai putraku.” Ia membaca dua kalimat syahadah dan mengucapkan shalawat untuk Rasulullah dan para imam satu-persatu. Setelah sampai di nama ayahnya ia diam sejenak. Ia memohon perlindungan dari setan yang terkutuk seraya membaca ayat: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan Kami akan memberikan anugrah kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi, menjadikan mereka para pemimpin dan para pewaris. Dan Kami akan menjayakan mereka di muka bumi dan memperlihatkan kepada Fir’aun, Haman dan bala tentara mereka apa yang mereka takutkan.”
Setelah itu, Abu Muhammad memberikannya kepadaku kembali seraya berkata: “Wahai bibiku, kembalikanlah kepada ibundanya supaya ia berbahagia dan tidak susah. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Akan tetapi, mayoritas umat manusia tidak mengetahui.”
Kukembalikan ia kepada ibunya dan fajar telang menyingsing waktu itu. Setelah mengerjakan shalat Shubuh, aku mohon pamit kepadanya. [12]

Kelahiran Yang Tersembunyi

Meskipun bukti-bukti tekstual dan historis di atas sangat gamblang dan jelas, kelahiran beliau masih menjadi misteri bagi sebagian orang. Mereka malah mengingkari bahwa beliau telah lahir dan menganggapnya masih belum lahir. Mungkin faktor utama atas klaim mereka itu adalah kelahiran beliau yang terjadi secara tersembunyi dan tidak pernah melihat beliau kecuali sahabat-sahabat dekat Imam Hasan al-‘Askari as. Tapi, ketika kita memperhatikan situasi dan kondisi politik yang dominan dan sangat genting di masa-masa terakhir kehidupan Imam Hasan al-‘Askari, kita akan memaklumi kelahiran beliau yang terjadi secara tersembunyi itu. Karena hal itu memang terjadi karena tuntutan sikon yang ada waktu itu mengingat Imam Mahdi as adalah hujjah Ilahi yang terakhir, dan seandainya penguasa waktu itu berhasil membunuh beliau, niscaya dunia ini sudah tutup usia.
Mungkin pendapat seorang penulis kenamaan berikut ini layak kita renungkan bersama, paling tidak hal itu dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Ia menulis, “Rahasia di balik kelahiran beliau yang terjadi secara tersembunyi itu adalah, bahwa ketika dinasti Abbasiah mengetahui melalui hadis-hadis Nabi dan para imam Ahlulbait as bahwa Imam Mahdi adalah imam kedua belas yang akan meratakan keadilan di atas bumi ini, menghancurkan benteng-benteng kesesatan, membasmi pemerintahan thaghut dan menguasai Barat dan Timur, mereka ingin untuk memadamkan cahaya Allah itu dengan cara membunuhnya. Oleh karena itu, mereka mengirim mata-mata dan para dukun bayi untuk menggeledah dan memeriksa rumah Imam Hasan al-‘Askari as. Akan tetapi, Allah masih berkehendak untuk menyempurnakan cahaya-Nya dan menyembunyikan kehamilan ibunda beliau, Narjis.
Disebutkan dalam beberapa referensi bahwa al-Mu’tamid al-Abbasi memerintahkan para dukun bayi untuk memasuki rumah-rumah Bani Hasyim, khususnya Imam Hasan al-‘Askari tanpa harus meminta izin sebelumnya barangkali mereka dapat menemukan beliau telah lahir. Akan tetapi, Allah masih menghendaki untuk memberlakukan apa yang pernah terjadi pada kisah kelahiran Nabi Musa as. Pihak penguasa mengetahui bahwa kerajaan mereka akan musnah di tangan salah seorang dari keturunan Bani Israil. Oleh karena itu, mereka selalu mengawasi setiap wanita keturunan Bani Israil yang sedang hamil. Ketika melihat anak yang lahir dari mereka adalah lelaki, mereka langsung membunuhnya. Tapi, dengan kehendak Allah Musa tetapi lahir dengan selamat dan Ia menyembunyikan kelahirannya.
Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa kelahiran Imam Mahdi as memiliki keserupaan dengan kelahiran Nabi Musa dan Ibrahim as.” [13]
Dari sekilas pembahasan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Imam Mahdi as sudah lahir. Karenan jika tidak demikian, mengapa para penguasa Abbasiah memberlakukan pengontrolan ketat terhadap keturunan Bani Hasyim, khususnya istri Imam Hasan al-‘Askari? Mengapa mereka memerintahkan para dukun-dukun bayi untuk memasuki rumah beliau tanpa harus meminta izin terlebih dahulu? Pada peristiwa syahadah Imam Hasan al-‘Askari pada tanggal 8 Rabi’ul Awal 260, Ja’far al-Kadzzâb, saudara beliau ingin menjadi imam di saat shalat janazah hendak dilaksanakan. Karena sunnah Ilahi bahwa seorang imam tidak dapat dishalati kecuali oleh imam setelahnya, Imam Mahdi menampakkan dirinya dan menyingkirkan Ja’far dari tempat imam shalat jenazah. Tidak lama, berita kemunculan beliau di hadapan khalayak tersebar dan hal itu pun sampai ke telinga al-Mu’tamid, penguasa dinasti Abbasiah kala itu. Akhirnya, ia memerintahkan bala tentaranya untuk menggeledah rumah Imam Hasan al-‘Askari demi menangkap Imam Mahdi dan menyerahkannya kepada Khalifah [14] .
Meskipun kelahiran terjadi secara tersembunyi, tapi hal itu tidak menutup kemungkinan adanya sebagian orang yang pernah melihat beliau. Berikut ini nama-nama orang yang pernah melihat beliau dengan mata kepala mereka sendiri: [15]
a.        Sayidah Hakimah binti Ali al-Hadi, bibi Imam Hasan al-‘Askari. Beliaulah yang menemani Narjis saat melahirkan Imam Mahdi as.
b.       Abu Ghanim, pembantu setia Imam Hasan al-‘Askari as
c.        Nasim, seorang pembantu di rumah Imam Hasan al-‘Askari as.
d.       Kamil bin Ibrahim al-Madani, seorang agung yang pernah menganut mazhab al-Mufawwidhah dan kemudian meninggalkannya. Ia bercerita, “Para sahabat Imam al-‘Askari pernah mengutusku untuk menanyakan beberapa masalah dan supaya aku mengetahui tentang anak beliau yang baru lahir. Aku masuk ke rumah beliau. Setelah mengucapkan salam, aku duduk di pinggir sebuah pintu yang ditutupi oleh kain. Tiba-tiba angin bertiup dan menyingkap ujung kain itu. Kulihat seorang anak kecil (di balik pintu itu) yang sangat tampan bagaikan rembulan. Ia kira-kira masih berusia empat tahun. Ia berkata kepadaku, ‘Hai Kamil bin Ibrahim!’ Buluku merinding mendengar suara itu dan aku diberi ilham untuk mengucapkan, ‘Ya junjunganku!’ Ia melanjutkan, ‘Engkau datang kepada wali Allah untuk menanyakan kepadanya tentang statemen bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang yang berkeyakinan seperti keyakinanmu?’ ‘Betul, demi Allah’, jawabku. ‘Jika begitu, amat sedikit orang yang akan memasukinya. Demi Allah! Pasti akan masuk surga kaum yang dikenal dengan sebutan al-Haqqiyah’, tandasnya. ‘Wahai junjunganku! Siapakah mereka itu?’, tanyaku. ‘Mereka adalah sekelompok kaum yang karena kecintaan mereka kepada Ali, mereka siap untuk bersumpah demi haknya, meskipin mereka tidak mengetahui hak dan keutamannya’, tandasnya. Kemudian, ia melanjutkan, ‘Engkau datang juga ingin menanyakan tentang keyakinan mazhab al-Mufawwidhah. Mereka telah berbohong. Sebenarnya hati kami adalah wadah bagi kehendak Allah. Ketika Allah berkehendak, kami pun berkehendak. Allah berfirman, ‘Dan kalian tidak mungkin berkehendak kecuali jika Allah berkehendak’.’ Kain itu pun tertutup kembali dan aku tidak dapat untuk menyingkapnya kembali. Ayahnya melihatku sembari tersenyum. Ia berkata kepadaku, ‘Kenapa engkau masih duduk di sini sedangkan hujjah setelahku telah menjawab pertanyaanmu?’”
e.        Abul Fadhl Hasan bin Husain al-‘Askari.
f.         Ahmad bin Ishaq al-Asy’ari al-Qomi, wakil Imam Hasan al-‘Askari di Qom.
g.        Ya’qub bin Manqusy.
h.        Isa bin Mahdi al-Jawahiri.
i.          Ibrahim bin Muhammad at-Tabrizi.
j.         Utusan kota Qom.
k.       Ibrahim bin Idris.
Nama dan Julukan
Orang-orang besar biasanya memiliki nama dan julukan lebih dari satu. Rasulullah SAWW memiliki nama dan julukan Muhammad, Ahmad, Thaha, Yasin, al-Basyir, an-Nadzir, dan lain sebagainya. Imam Ali dan seluruh imam dari keturunan beliau juga demikian. Hal itu bukanlah suatu hal yang kebetulan. Akan tetapi, menyingkap satu sisi dari sekian sisi kepribadian dan spiritual yang mereka miliki.
Imam Mahdi pun tak luput dari kaidah di atas. Beliau pun memiliki nama dan julukan lebih dari satu, seperti al-Mahdi, al-Hujjah, al-Qâ`im, al-Muntazhar, al-Khalaf as-Shâlih, Shâhib al-Amr, dan As-Sayid. Pada kesempatan ini, kami akan menyebutkan sebagiannya saja beserta alasan yang ditegaskan oleh hadis-hadis mengapa beliau memiliki nama dan julukan tersebut.
a. Al-Mahdi.
Dalam beberapa hadis, beliau dijuluki dengan al-Mahdi. Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda, “Nama al-Mahdi adalah namaku.” Hadis serupa juga pernah diucapkan oleh Amirul Mukminin as.
Mengapa beliau diujuluki demikian? Hal itu dikarenakan Allah selalu menunjukkannya kepada hal-hal ghaib yang tidak diketahui oleh siapa pun. Berkenaan dengan hal ini Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Jika al-Mahdi kami telah bangkit, ia akan membagi-bagikan (harta) dengan sama rata dan berbuat adil terhadap rakyat jelata. Barangsiapa menaatinya, maka ia telah menaati Allah dan barangsiapa menentangnya, maka ia telah menentang Allah. Ia diberi nama al-Mahdi, karena Ia selalu menunjukkannya kepada sesuatu yang rahasia.” [16]
b. Al-Qâ`im
Julukan beliau ini mengungkap sebuah makna yang sangat signifikan. Al-Qâ`im adalah orang yang berdiri atau bangkit. Kebangkitan beliau kelak di akhir zaman berbeda sekali dengan seluruh kebangkitan yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Bisa diasumsikan bahwa kebangkitan beliau adalah satu-satunya kebangkitan yang belum pernah disaksikan oleh makhluk Allah. Jika kebangkitan-kebangkitan yang pernah terjadi sepanjang sejarah hanya bersifat parsial dan teritorial, kebangkitan beliau ini bersifat universal dan mendunia. Beliau akan menebarkan semerbak wangi kebenaran ke seluruh penjuru dunia sehingga setiap orang pasti dapat menikmatinya dengan penuh keleluasaan.
Dalam sebuah hadis Imam Ja’far as-Shadiq as pernah berkata, “Ia dinamai al-Qâ`im karena ia akan menegakkan kebenaran (dengan kebangkitannya).” [17]
Abu Hamzah ats-Tsumali pernah bertanya kepada Imam al-Baqir as: “Wahai putra Rasulullah, bukankah kalian semua adalah orang-orang yang menegakkan kebenaran (qâ`imîn bil-haq)?”
“Ya”, jawab beliau.
“Mengapa hanya Imam Mahdi yang dijuluki al-Qâ`im?”, tanyanya lagi.
Beliau menjawab: “Ketika kakekku Husain as terbunuh, para malaikat menangis meraung-raung di hadapan Allah ‘azza wa jalla ... Setelah itu, Allah menunjukkan para imam dari keturunan Husain as (kepada mereka). Mereka menjadi gembira dengan hal itu. (Pada waktu itu), salah seorang dari mereka sedang berdiri (qâ`im) mengerjakan shalat. Lantas Ia berfirman: ‘Dengan (perantara) orang yang sedang berdiri itu Aku akan membalas dendam kepada mereka (para pembunuhnya)’.” [18]
c. Al-Muntazhar
Jika dalam keyakinan masyarakat dunia pekerjaan menunggu dan menanti adalah sebuah kegiatan yang menjemukan, menunggu kedatangan seorang juru penyelamat dari segala penderitaan adalah sebuah harapan yang dapat memberikan energi baru bagi kegiatan seseorang dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam konteks ini beliau diberi julukan al-Muntazhar, orang yang selalu dinantikan kedatangannya.
Imam al-Jawad as pernah ditanya: “Wahai putra Rasulullah, mengapa ia dijuluki al-Qâ`im?” “Karena ia akan bangkit setelah dilupakan dan mayoritas orang yang meyakini imâmahnya murtad”, jawab beliau. “Mengapa diberi julukan al-Muntazhar?”, beliau ditanya kembali. “Karena ia memiliki sebuah ghaibah yang sangat panjang. Orang-orang yang tulus akan selalu meunggu kehadirannya dan orang-orang yang kotor akan mengingkarinya”, jawab beliau tegas.
d. Al-Hujjah
Dalam keyakinan Islam, hujjah Allah pasti selalu ada pada setiap masa. Tidak pernah berlalu sebuah masa yang hujjah Allah absen di situ. Karena ia adalah satu-satunya perantara faidh (anugrah dan karunia) Ilahi untuk seluruh makhluknya. Tanpa hujjah, faidh Ilahi akan terputus dan seluruh alam semesta akan luluh-lantak.

[1] Muhammad Kazhim al-Qazwini, al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ilâ azh-Zhuhûr, hal. 22-23.
[2] Ushûl al-Kâfî, jilid 1, hal. 397.
[3] Untuk telaah lebih luas mengenai hal ini,silakan merujuk ke buku al-Imam al-Mahdi min al-Mahdi ilâ azh-Zhuhûr, karya Allamah Muhammad Kazhim al-Qazwini, hal. 97-100, cetakan pertama, penerbitan an-Nur, Beirut.
[4] Murûj adz-Dzahab, jilid 4, hal. 199, cetakan Mesir 1377 M.
[5] Tarikh Ibnu Khalakan (Wafayât al-A’yân), jilid 3, hal. 316, cetakan Mesir, Maktabah an-Nahdhah al-Mishriyah.
[6] Al-Ittihâf bi Hubb al-Asyrâf, hal. 178, cetakan Mesir 1316 H. menukil dari al-Mahdi al-Mau’ûd al-Muntazhar, karya Syeikh Najmuddin Ja’far al-‘Askari, jilid 1, hal. 200-201, cetakan Beirut 1397 H.
[7] Al-Yawâqît wa al-Jawâhir, hal. 145, cetakan Mesir 1307 M.
[8] Yanâbî’ al-Mawaddah, hal. 452, menukil dari al-Mahdi al-Mau’ûd, jilid 1, hal. 212-213.
[9] Syamsuddin Ahmad bin Muhammad adz-Dzahabi, Mîzân al-I’tidâl, jilid 2, hal. 52; al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ilâ azh-Zhuhûr, hal. 24.
[10] Al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ilâ azh-Zhuhûr, hal. 24 menukil dari al-Bayân fî Akhbâr Shâhib az-Zamân, hal. 93-94.
[11] Ibid. hal. 25.
[12] Al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ilâ azh-Zhuhûr, hal. 114-118; Kamil Sulaiman, Yaum al-Khalâsh, hal. 67-86.
[13] Luthfullah ash-Shafi al-Gulpaigani, Muntakhab al-Atsar fî al-Imam ats-Tsânî ‘Asyar, hal. 286, cetakan ketiga, penerbitan ash-Shadr, Tehran.
[14] Muhammad Reza Hakimi, Khoshîd-e Maghreb, hal, 24-26.
[15] Untuk menelaah lebih lanjut tentang hal ini, silakan merujuk ke buku Yaum al-Khalâsh, hal. 67-86.
[16] Muttaqi al-Hindi al-Hanafi, al-Burhân ‘Alamât Mahdi Âkhir az-Zamân, bab 3, hadis ke-8 dan 9.
[17] Allamah al-Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jilid 51, hal. 30, cetakan Tehran 1393 H.
[18] Ibid. jilid 51, hal. 28-29.

Islam Itu Eksklusif, Toleran dan Membahagiakan







































“Barat tempatmu bergantung,
Telah menipu otakmu dan menyihir jiwamu
Barat tempatmu bergantung telah menipu dirimu
Sekali dengan bujuk halus dan rayuan
Sekali dengan belenggu dan jeratan”  
(Mohammad Iqbal)
 Akhir-akhir ini berkembang (dikembangkan) pemahaman-pemahaman Islam yang membingungkan. Muncul sebuah istilah yang sepintas lalu seolah-olah benar, padahal mempunyai makna yang salah atau kacau. Misalnya istilah Islam Anti Kekerasan, Islam Membebaskan, Islam Inklusif dan lain-lain. Kemunculan istilah ini dipahami sebagian kalangan Islam sebagai propaganda Barat untuk memecah belah umat Islam. Sementara sebagian yang lain menganggap hal itu adalah sebagai khazanah umat Islam atau wacana kebebasan Islam.
Untuk memahami istilah ini perlu perenungan yang mendalam terhadap kebenaran istilah ini karena penggunaan istilah ini seringkali digunakan kalangan tertentu (biasanya didukung para orientalis) untuk merendahkan atau member stigma kepada kelompok Islam lainnya. Sehingga dikampanyekan istilah-istilah Islam Garang, Islam yang membelenggu, Islam Radikal, Islam Garis Keras, Islam Militan dan semacamnya.
Kita akan menelisik beberapa istilah yang membingungkan itu. Penggunaan Islam anti kekerasan misalnya, sebenarnya sangat tidak tepat karena Islam kenyataannya mengajarkan kekerasan, contohnya ajaran jihad dalam Islam. Seperti kita ketahui, jihad diwajibkan ketika sebuah wilayah kaum Muslimin dijajah, penduduknya diusir atau dianiaya. Maka penggunaan kekerasan dengan fisik (jihad) melawan ‘penzalim’ dalam Islam bukan saja dibolehkan bahkan wajib dilakukan. Contohnya kewajiban jihad penduduk Palestina kepada Israel atau penduduk Islam Maluku dan sekitarnya Ketika mereka diserang kaum Nashrani bulan Januari 1999. Begitu juga kaum Muslimin di Irak, Moro, Pattani, Chechnya, Bosnia, Afghanistan dan lain-lain yang diserang secara militer (fisik) oleh penguasa-penguasa kafir. Begitu juga Bapak diperbolehkan menggunakan ‘kekerasan’ kepada anaknya ketika usianya 10 tahun tetap bandel tidak mau shalat. Jadi Islam bukanlah anti kekerasan, tapi Islam mengatur kekerasan sebagaimana hukum-hukum lain yang ada di dunia ini juga mengatur penggunaan kekerasan.
Sangat tidak lucu bila sebuah masyarakat yang penduduknya diperangi, mereka kemudian berdiam diri tidak mengadakan pembalasan yang setimpal. Dalam hal ini perlu diteladani ketika ulama besar India, Abul Hasan an Nadwi mengritik keras gerakan tokoh anti kekerasan Mahatma Gandi di India. Kata Nadwi,”Seruan Gandhi tak lebih dari debu tak berarti di tengah bentrokan-bentrokan antar golongan yang hebat di Punjab Timur dan New Delhi bulan September 1947, yang meminta korban lebih dari setengah juta jiwa kaum Muslimin melayang dalam pembantaian kejam dan biadab…Semua kegagalan Gandhi ini menunjukkan bahwa cara perbaikan masyarakat yang diserukan Nabi adalah cara yang tepat, sesuai dengan naluri manusia.” (an Nadwi, 1988: 126-127).
Dalam ilmu politik Barat, kekerasan atau perang itu justru harus dipersiapkan agar masyarakat dapat damai. Dalam teori “Balance of Power”, seperti pendapat pakar politik J Morgenthau, dikatakan bahwa Negara-negara di dunia ini bila ingin damai harus membuat kekuatan militer yang seimbang. Dengan keseimbangan kekuatan militer (perang) itu, Negara yang satu akan berpikir ulang untuk melakukan invasi (menzalimi) Negara lain secara semena-mena. Perang seringkali terjadi karena ada anggapan bahwa kekuatan militer yang lain dianggap tidak seimbang (lebih lemah). Di sini kita lihat bagaimana liciknya politik Amerika yang tidak mau keseimbangan nuklir terjadi di dunia (khususnya Negara-negara Islam).
Kita melihat juga dalam sejarah manusia perang/’kekerasan liar’ –sebagaimana kejahatan kejahatan (setan)- tidak pernah berhenti. Benarlah firman Allah SWT:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (al Baqarah 216)
Dalam sejarah Nabi Muhammad saw kita melihat bagaimana beliau dan sahabat-sahabatnya puluhan kali berperang dengan kaum kafir yang menzalimi umat Islam. Karena itu, Rasulullah dalam beberapa hadits, menganjurkan umatnya agar belajar latihan perang, seperti berkuda (berkendaraan), memanah (menembak) dan berenang. Banyak juga ayat Al Qur’an dan Hadits yang memberikan teladan tentang aturan-aturan perang (pembunuhan).
Di sisi lain, ketika Islam begitu bersemangat mengajarkan jihad dan peperangan, di saat yang sama Islam juga sangat menganjurkan perdamaian atau toleransi. Rasulullah mengajarkan bila orang-orang kafir tidak menzalimi umat Islam atau tidak melakukan peperangan, maka umat Islam juga siap berdamai. Dalam sejarah, kita baca tentang berbagai perjanjian damai yang dibuat beliau, seperti Perjanjian Hudaibiyah, Piagam Madinah dan lain-lain.
Nabi terakhir ini juga mengajarkan toleransi yang tinggi kepada umatnya. Banyak hadits menceritakan tentang kunjungan Nabi saw kepada orang Yahudi ketika sakit, bersedianya Nabi makan di rumah orang kafir, sedekah Nabi kepada tetangganya yang kafir dan lain-lain. Toleransi (tasamuh) yang tinggi umat Islam itu telah ditorehkan sejarah islam, termasuk dalam sejarah Perang Salib sebagaimana dinyatakan sejarawan Karen Armstrong. Kita melihat juga Al Qur’an sangat melarang pembunuhan kepada manusia tanpa alasan yang benar. Firman Allah SWT:
“…barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia…” (al Maidah 32)
Jadi sifat keras dan halus secara bersama-sama diajarkan Islam. Disinilah justru letak keistimewaan atau keeksklusifannya.  Islam secara bersama-sama mengajarkan kekerasan dan perdamaian. Tergantung situasi yang dihadapinya. Seorang Muslim akan kelihatan radikal militant, atau garang ketika islam atau umat Islam dizalimi musuhnya.  Ia akan kelihatan toleran atau halus, ketika menjenguk temannya non Islam yang sakit. Akan kelihatan lebih “halus lagi”, ketika ia tunduk serendah-rendahnya, bersujud shalat tahajud kepada Rabbnya di malam hari atau air matanya meleleh deras ketika mendengar ayat-ayat tertentu dalam Al Qur’an.
Istilah lain yang cukup menganggu adalah istilah islam yang membebaskan. Bila kita merenung dan mengkaji secara mendalam terhadap Islam, maka Islam sebenarnya secara bersama-sama membebaskan dan mengikat pemeluknya. Islam memang membebaskan berfikir bagi manusia, selama pemikirannya tidak menyimpang dari aturan Allah (dari nash-nash Al Qur’an dan Hadits yang qath’i). Islam membebaskan manusia berkreasi seluas-luasnya dalam ilmu dan teknologi. Islam juga mengharapkan kemandirian manusia, membebaskan manusia dari ketundukan atau ‘perbudakan’ manusia lainnya karena berprinsip ketundukan hanyalah kepada Allah yang menciptakannya.
Tapi tidak dipungkiri, Islam juga mengikat seorang Muslim dengan kewajiban shalat, puasa, zakat, menutup aurat dan lain-lain. Hal ini sebenarnya logis, sebagaimana juga hukum-hukum manusia selain memberikan kebebasan juga membuat aturan-aturan baik individu maupun masyarakat. Bahkan kadang lebih “ketat” lagi seperti kita lihat sekarang aturan penghormatan bendera, protokoler presiden/menteri, aturan memakai seragam/helm dan lain-lain. Dalam menghukum, seringkali ‘hukum manusia’ lebih ganas dan tidak adil, pencuri 10 juta (motor) dibakar hidup-hidup, sedangkan pencuri trilyunan rupiah dibebaskan berkeliaran bahkan diberi tambahan modal baru.
Kelebihan Islam, aturan-aturannya mengandung butir-butir hikmah yang besar bagi manusia. Para ulama banyak menulis kitab tentang hikmah-hikmah positif syariat Islam itu: hikmah shalat, hikmah menutup aurat, hikmah puasa, hikmah hukum qishash dan lain-lain. Dengan kata lain, ketika seorang Muslim menjalan aturan Islam (syariat Islam), ia tidak merasa dibelenggu sebagaimana menjalankan banyak hukum manusia. Justru ia merasa tentram atau tenang karena ia menjalankan aturan-aturan dari Sang Pencipta dan Sang Maha Tahu.
Al Quran sendiri dengan teks yang jelas, member kebebasan bagi seorang manusia, mau menjadi Muslim atau menjadi kafir. Masing-masing dengan konsekuensinya. Al Quran menegaskan bila seorang menjadi Muslim maka akan masuk surga dan bila ia memilih kafir maka ia akan masuk neraka di akhirat nanti. Dan Allah SWT tidak akan menzalimi hamba-Nya.
Kata-kata kebebasan –yang dipropagandakan Barat untuk melawan keterikatan kepada agama- memang seolah-olah indah dan di dalam katanya mengandung makna kebahagiaan. Tapi benarkah ideology kebebasan secara otomatis akan membahagiakan manusia? Kenyataannya justru sebaliknya. Kebebasan (Barat) justru membawa banyak kesengsaraan manusia lainnya. Misalnya kebebasan seks, berselingkuh dan ‘hidup bebas tanpa nikah’, homoseksual, ternyata menyebabkan kesengsaraan dan kehancuran rumah tangga, liarnya kehidupan remaja, merebaknya penyakit aids, hilangnya kepekaan social dan lain-lain. Kebebasan pergaulan menyebabkan anak kena narkoba dan tawuran. Kebebasan minuman beralkohol menyebabkan kerusakan otak dan akhlak. Kebebasan internet menyebabkan banyak remaja kecanduan games dan pornografi.
Kebebasan perdagangan yang dipropagandakan Barat malah justru merugikan atau kadang ‘memeras’ kekayaan negara berkembang, menghambat kemakmuran negara berkembang dan memperbanyak kematian penduduk negara-negara miskin karena kelaparan dan lain-lain. Kebebasan memelihara anjing yang berlebihan menyebabkan orang-orang di Barat lebih semangat mengeluarkan uang untuk makanan dan kesehatan anjing daripada mengeluarkan bantuan untuk orang-orang miskin di negara-negara berkembang. Kita menyaksikan bagaimana kebebasan mode berpakaian justru mengakibatkan banyaknya pelacuran. Banyak anak gadis melacur untuk mendapatkan uang sekedar untuk membeli mode pakaian terbaru, handphone dan hiburan-hiburan kebahagiaan semu. Di samping itu juga pikiran mereka menjadi terbelenggu (tidak nyaman) karena selalu dituntut tampil ke publik harus cantik fisik selaras dengan dikampanyekannya fashion show atau tepatnya body show.
Pertanyaannya, manakah yang dicari manusia (Muslim) sebenarnya, kebebasan atau kebahagiaan? Jawabannya tentu dalam hidup ini manusia mencari kebahagiaan.  Kebebasan kadang menjadi sarana dan kadang jadi penghambat. Oleh karena itu yang tepat Islam itu menentramkan atau membahagiakan manusia bukan membebaskan manusia. Jadi kebebasan itu ternyata tidak selamanya membuat manusia menjadi tenteram atau bahagia, malah seringkali membuat manusia menjadi sengsara.
Kita dapati dalam sejarah banyak ulama yang dipenjara, dibelenggu kebebasannya, tapi hidupnya tetap tenang dan tenteram. Ibnu Taimiyah, Sayid Qutb dan Hamka mengukir karya-karya besarnya ketika berada di terali besi.
Setelah meneliti berbagai pendapat filosof tentang arti bahagia, Ulama Besar Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), menyatakan bahwa manusia berbeda-beda dalam memimpikan kebahagiaan. Si miskin menganggap si kaya yang bahagia. Orang bodoh menganggap si Pintar yang bahagia. Orang bujang memimpi orang nikah bahagia. Tapi kenyataannya tidak demikian. Kadang si kaya melihat si miskin yang bahagia. Ia merasa tidak bahagia karena selalu khawatir hartanya dirampas orang. Orang yang menikah merasa tidak bahagia karena waktunya terbelenggu keluarganya dan seterusnya. Maka dari itu, Buya Hamka menasihatkan,”Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia. Bertambah sempit akal, bertambah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka. Oleh agama, perjalanan bahagia itu telah diberi berakhir. Puncaknya yang penghabisan ialah kenal akan Tuhan, baik makrifat kepadaNya, baik taat kepadaNya dan baik sabar atas musibahNya. Tidak ada lagi hidup di atas itu.”
Hal itu senada dengan firman Allah SWT,
“Dan barangsiapa menaati Allah dan RasulNya, maka sungguh dia menang dengan kemenangan yang agung (kebahagiaan di atas kebahagiaan).” (al Ahzab 71).
Walhasil ada udang dibalik batu dalam sebuah istilah. Dan jangan terbujuk dengan ‘kehalusan politik bahasa’. Wallaahu a’lam. 

Islam di Nusantara: Historiografi dan Metodologi




























“We must question the way they arrive at their theories,
their way of reasoning and analysis, their setting forth
of premises and arrival at conclusions, their raising
of problems and arrival at their solutions, their
understanding of recondite matters of meaning,
their raising of doubtsand ambiguities and
their insistence upon empirical facts”. [1]
  Syed M. Naquib al-Attas
Beberapa waktu lalu dunia kesarjanaan antarabangsa digemparkan oleh buku berjudul Historical Fact and Fiction karya Tan Sri Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang ulama filsuf dan pakar terkemuka dalam kajian sejarah, bahasa, dan pemikiran Melayu Islam Nusantara. Dalam karya terbarunya ini beliau mengapresiasi sekaligus mengkritik upaya dan pendekatan para sarjana Orientalis serta kesimpulan-kesimpulan mereka yang cukup mendominasi wacana historiografi Islam di kepulauan Melayu Indonesia.Sebuah upaya dekolonisasi dan revolusi paradigma sejarah, karya inimenyingkap andaian-andaianyang terselip, metodologi yang digunakan, dan menyoal secara rasional sejumlah interpretasi maupun konklusi para Orientalis.Ini termasuk soalpenentuan waktu, asal, dancaramasuknya Islamke Nusantaraserta pengaruhnya terhadap masyarakat setempat.Makalah ini bertujuan memetakan ranah historiografi Islam di Nusantara sekaligus meninjau ulang pelbagaiproposisi dan argumentasi yang telah dilontarkan terutama dari sisi metodologi dan epistemologinya.
1. Penanggalan: Sejak Kapan?
Kita mulai dengan pertanyaan: Bilakah Islam sampai ke Nusantara? Secara garis besar, jawaban para ahli untuk soalan ini terbagi dua. Pendapat pertama mengatakan bahwa Islam tiba di Nusantara pada abad ke-13 Masehi, yakni setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah akibat serbuan tentara Mongol pada tahun 1258 Masehi. Sebagaimana dinyatakan oleh Christiaan Snouck Hurgronje (w.1936), Orientalis sekaligus penasehat kolonial Belanda: “Toen de Mongolenvorst Hoelagoe in 1258 na Chr. Bagdad verwoestte, …was de Islam langzaam aan begonnen, in de eilanden van den Oost-Indischen Archipel door te dringen”.[2]Pendapat klasik ini didasarkan pada catatan yang terdapat pada batunisan kubur Sultan Malik as-Shalih bertahun 696 Hijriah atau1297 Masehi. Dirujuknya pula warta perjalanan Marco Polo yang sempat singgah di Sumatra pada tahun 1292 dan mencatat ramainya rakyat kerajaan Perlaktelah memeluk Islam.[3] Logika Snouck ini sederhana: kalau Islam memang sudah bertapak sebelum abad ke-13 Masehi, kenapa tidak ada bukti tertulis, konkret atau empiris mengenainya? Ketiadaan bukti adalah bukti ketiadaan, bagi Orientalis yang dikenal anti-Islam ini.[4] Namun benarkah tiada bukti terkait?
Di belakang hari telah ditemukan di daerah Leran, Gresik Jawa Timur, sebuah batu nisan seorang yang bernama Fatimah binti Maymun bin Hibatillah dengan huruf Kufi bertahun 495 Hijriah (= 1102 Masehi), menurut hasil bacaan Moquette, atau 475 Hijriah (1082 Masehi), menurut koreksi Ravaisse.[5]Bukti keras ini membolehkan kita menarik sebuah kesimpulan rasional bahwa Islam sudah bertapak sekurang-kurangnya beberapa dasawarsa sebelum itu. Dengan kata lain boleh dikatakan tahun tersebut (475 H/1082 M) sebagai terminus ante quem kedatangan Islam khususnya di pulau Jawa. Ini menjadi pendapat kedua yang juga dipegang olehProfesor al-Attas: “In my estimation the correct time-frame for the initial Islamization of Sumatra should have been during the period between the 9th and 10th centuries or even earlier.” Menurut al-Attas, hal ini secara implisit dinyatakan dalam kitab Hikayat Raja Pasai dan Sejarah Melayu yang diperkuat oleh catatan sejarawan al-Mas‘udi (w. 956 M) dalam Muruj al-Dzahab (1:99 & 167-169) bahwa terdapat sekitar 10000 Muslim Arab Quraysh dari keturunan para Sahabat Nabi yang tinggal di wilayah al-Manshurah, Multan dan Mangir di timur laut India.[6]
Pendapat ketiga -yang boleh kita namakan pandangan “revisionis”- menyatakan Islam telah masuk ke Nusantara seawal abad ke-7 Masehi,yakni sejak zaman Khulafa’ Rasyidin pada kurun pertama Hijriah. Pendapat yang diyakini oleh mayoritas sarjana Muslim ini didukung oleh data-data sejarah yang cukup banyak.[7]Pertama, dari berita Cina zaman Dinasti T’ang (618-907 M) yang menyebut orang-orang Ta-Shih (yakni Arab) mengurungkan niat mereka menyerang kerajaan Ho Ling yang diperintah Ratu Sima (674 M), maka beberapa ahli menyimpulkan bahwa orang-orang Islam dari tanah Arab sudah berada di Nusantara –diperkirakan Sumatra- pada abad pertama Hijriah (abad ke-7 Masehi).[8]
            Salah satu bukti kukuh untuk pendapat ini diungkapkan oleh Ibrahim Buchari, merujuk angka tahun yang terdapat pada batu nisan seorang ulama bernama Syaikh Ruknuddin di Baros, Tapanuli, Sumatera Utara, dimana tertulis tahun 48 Hijriah yakni 670 Masehi.[9]Menarik untuk dikemukakan dalam hal ini kemungkinan “kapur Barus” telah dikenal dan diekspor sampai ke Mesir untuk menghilangkan bau busuk mayat. Beberapa sarjana termasuk almarhum Buya Hamka dan Profesor al-Attas pun percaya bahwa lafaz “kaafuur” yang disebut dalam al-Qur’an (86:5) itu tak lain dan tak bukan adalah kapur dari Baros. Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa tidak mustahil jika Islam sudah mulai merambah ke Nusantara sejak abad pertama Hijriah (= abad ke-7 M).Dan bukan mustahil juga kalau Nabi Muhammad saw sendiri sebagai negarawan yang berpengalaman dan berwawasan luas telah menyuruh beberapa orang agar pergi berdakwah ke Nusantara.[10]
Informasi senada datang dari Syaikh Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Talib ad-Dimasyqi (w. 1327 M) alias Syaykh ar-Rabwah, penulis kitab Nukhbat ad-Dahr fi ‘Aja’ib al-Barr wa ’l-Bahr, yang menyatakan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara melaui Champa (Kamboja dan Vietnam sekarang)sejak zaman Khalifah ‘Utsman, yakni sekitar tahun 30 Hijriah (= abad ke-1) atau 651 Masehi (=abad ke-7).[11]
 2. Penelusuran: Dari mana?
 Demikian pula mengenai asal kedatangannya,pun ada beberapa pendapat. Pendapat pertama mengatakan Islam dibawa masuk ke Nusantara oleh saudagar-saudagar dari Gujarat, sebuah propinsi di bagian selatan India.Seperti dikatakan Snouck Hurgronje, orang-orang Islam yang menyebarkan agamanya di Indonesia tidak datang langsung dari negeri Arab. Mereka adalah orang-orang Islam dari anak benua India: “la religion du prophète arabe a été introduite dans l’Archipel par l’intermédiaire de l’Inde”.[12]Dalilnya adalah unsur-unsur keislaman di Indonesia yang mirip dengan di India. Cerita-cerita rakyat dalam bahasa-bahasa daerah Nusantara mengenai nabi dan para pengikut pertamanya, ujarnya, tidak hanya jauh dari nilai sejarah, tetapi juga jauh dari nilai-nilai Arab, yangcerita asalnya terdapat di India. Dikatakannya pula bahwa kebiasaan Muslim di Indonesia menunjukkan beberapakesamaan dengan kebiasaanpenganut Syi‘ah di pantai Malabar dan Koromandel, padahalorang Indonesiaadalah Ahlus Sunnah yang dalamurusan fikih mengikut mazhab Syafi‘i.[13]
Pendapat ini sebenarnya dikemukakan pertama kalinya oleh D.J. Pijnappel, profesor bahasa Melayu pertama di universitas Leiden.[14] Berdasarkan kisah perjalanan seorang pelaut dengan nama Sulayman bertahun 851 Masehiserta catatan pelayaran Marco Polo dan Ibnu Battutah yang transit di Sumatra pada paruh pertama abad ke-14(1325-1353), maka disimpulkan bahwa kedatangan Islam mestilah melalui jalur perdagangan dari Teluk Persia ke pantai barat India, lalu dari Gujarat dan Malabarmasuk ke Nusantara. Dukungan bagi pendapat ini diberikan oleh Orientalis lainbernama J.P. Moquette. Menurutnya, batu-batunisandi Samudera Pasai yang terbuat dari pualam itu besar kemungkinannyaberasal dari satu pabrik di Cambay-Gujarat.[15]Meskipun lemah dan bermasalah, pendapat ini diterimaluasoleh para penulis sejarah Indonesia, dari mulai R.A. Kern dan Stapel,H. J. Van den Bergh, H. Kroeskamp, Prijohutomo, dan I.P. Simandjoentak sampai dengan Rosihan Anwar.[16]
           Kelemahan pendapat tersebut ditunjukkan antara lain oleh G.E. Morrison. Ada beberapa kejanggalan faktual terkait. Tidak mungkin Islam di Nusantara berasal dari propinsi Gujarat, sebab Marco Polo menceritakan Cambay pada tahun 1293 sebagai kota Hindu, sementara Gujarat baru jatuh ke tangan orang Islam pada tahun 1297.Akan tetapi Morrison menyatakan bahwa orang Islam sudah berabad-abad lamanya berada di selatan India, meski tanpa kekuasaan politik, yakni mereka yang tinggal di Sailan (Ceylon atau Sri Lanka), Malabar dan Koromandel sebelum ekspansi Kesultanan Delhi pada awal abad ke-14. Sebagian mereka mengaku keturunan Muslim Arab asal Irak yang mengungsi ke India demi menghindari kekejaman al-Hajjaj menjelang akhir abad ke-7 Hijriah.Tambahan pula mazhab Syafi‘i tidak dominan di Gujarat dan cerita-cerita rakyat Aceh lebih banyak diwarnai oleh unsur-unsur Tamil ketimbang Hindi.Maka lebih tepat untuk mengatakan, tulisnya, bahwa: “the provenance of Malaysian Islam is in fact Southern India.[17]Kesimpulan Morrison ini mengantarkan kita ke pendapat berikutnya.
          Pendapat kedua yang dipegang oleh S. Qadarullah Fatimi, menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara dari Benggala.Pendapatnyaini berasaskanlaporan Tomé Pires (1512-1515), berita-berita Cina, serta unsur tasawuf yang terdapatdi Indonesia dan Malaysia. Menurut Fatimi, pendiri kerajaan Islam pertama di Aceh, yaitu Merah Silau, berasal  dari Benggala. Kesimpulan ini diambilnya dari cerita Tomé Pires bahwa raja-raja di Sumatra pada waktu itu sudah beragama Islam. Kerajaan Samudra Pasai sendiri dulunya diperintah oleh penyembah berhala dan baru masuk Islam sekitar 160 tahun silam (berarti sekitar tahun 1352 Masehi), selepas kedatanganpara pedagang Muslim (the merchant Moors) yang memang telah lama menguasai kawasan pesisir laut. Merekalah yang kemudian mengangkat seorang Muslim asal Benggala sebagai raja di Pasai.[18]Petunjuk lainnya adalah kebiasaan orang Nusantara memakai kain “sarung” yang dikatakan sama dengan kebiasaan orang Benggala. Bertolak dari sumber-sumber itu Fatimi lalu menyimpulkan bahwa “Bengal is the main provenance of Sumatran Islam, though it does not at all exclude the possibility of strong influences from other parts of the Islamic world.”[19]
(Baca selengkapnya di Jurnal Islamia, ‘Pembebasan Nusantara: Antara Islamisasi dan Kolonialisasi’, Vol. VII, No. 2, 2012).


[1]S.M. Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction (Kuala Lumpur: UTM Press, 2011), xi.
[2] C.S. Hurgronje, “De Islam in Nederlandsch-Indië,” dalam Verspreide Geschriften (Bonn: Kurt Schroeder, 1923-1927), jilid 4, bag. 2, hlm.361, cf. Islam di Hindia Belanda, terj. S. Gunawan (Jakarta: Bhatara, 1973). Ditegaskannya lagi dalam sebuah ceramah di Amsterdam bahwa: “Niet de godsdienst van Mohammed, maar de tot rijpheid ontwikkelde Islam kan herwaarts zijn overgekommen. … de derde eeuw onstaan (Bukan agama Muhammad yang datang ke Nusantara ini, melainkan Islam yang sudah berkembang matang … tiga abad kemudian)”. Cf. idem, “La propagation de l’Islam, particulièrement dans l’archipel des Indes Orientales,” Revue du Monde Musulman 14 (1911), 381-414.
[3] Lihat Marco Polo, Cathay and the Way thither, terj. H. Yule (London, 1866), jilid 2, hlm. 284; cf. Paul Peliot, Notes on Marco Polo, I (Paris: Maisonneuve, 1959), 86.
[4]  Sebagaimana disinyalir oleh al-Attas: “Moreover, in all their theories the taint of settled aversion towards Islam is always discernible” (Historical Fact and Fiction, hlm. xiii).
[5] Lihat J.P. Moquette, “De oudste Mohammedaansche inscriptie op Java, n.m. de graafsteen te Leran,” dalam Handeligen van het eerste congres voor taal-, land-, en volkenkunde van Java (Weltevreden, 1921), hlm. 391-399; dan Paul Ravaisse, “L’inscription coufique de Léran à Java,” dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde 65 (1925), hlm. 668-703.
[6]S.M. Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction (Kuala Lumpur: UTM Press, 2011), xi.
[7] Sebagaimana disimpulkan oleh Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia yang diadakan di Medan pada 17-20 Maret 1963/21-24 Syawwal 1382 yang dihadiri oleh KASAB Jenderal A.H. Nasution, Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri, Menteri Penerangan Prof Dr Roeslan Abdul Gani, Dr H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), Dr Tudjimah dan tokoh-tokoh lain. Lihat: Prof A. Hasymy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia (Bandung: al-Ma‘arif, 1993), cet. 3, hlm. 6-8.
[8]Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia dari Abad XIII sampai XVIII Masehi (Kudus: Penerbit Menara Kudus, 2000), hlm. 15-17.
[9] Pendapat ini pertama kali dilontarkan oleh Dada Meuraxa dalam bukunya, Sejarah masuknya Islam ke Bandar Barus, Sumatera Utara(Medan: Sasterawan, 1973), dikutip oleh Wan Hussein Azmi, “Islam di Aceh: Masuk dan Berkembangnya hingga Abad XVI,” dalam A. Hasymy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia (Bandung: al-Ma‘arif, 1993), cet. 3, hlm. 183-184. Cf. A.H. Hill, “The coming of Islam to North Sumatra,” Journal of South-East Asia History 4 (1963), hlm. 6-21.
[10]S.M. N. al-Attas, Historical Fact and Fiction (Kuala Lumpur: UTM Press, 2011), hlm. 2-3.
[11]  Al-Dimashqi, Manuel de la cosmographie du moyen-age (Copenhagen, 1923), dikutip oleh G.R. Tibbetts, A Study of the Arabic Texts containing Materials on South-east Asia (Leiden & London: Brill, 1979), hlm. 63: “The Muslim religion came there in the time of ‘Uthman, and the ‘Alids expelled by the Umaiyads and by al-Hajjaj, took refuge there, having crossed the Sea of Pitch”; cf. P.Y. Manguin, “Etudes cam. II; l’introduction de l’Islam au Campa,” Bulletin de l’Ecole Fran-çaise de’Extrême-Orient 66 (1979), 257; cf. S.M. Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction (Kuala Lumpur: UTM Press, 2011), hlm. 4; dan Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah(Bandung: Salamadani, 2009), hlm.105-106.
[12]C.S. Hurgronje, “L’Arabie et Les Indes Néerlandaises,” Verspreide Geschriften, jilid 4, bag. 2, hlm.106, asalnya naskah pidato berjudul: Arabie en Oost-Indië, dalam rangka pelantikannya sebagai guru besar di Universitas Negeri Leiden pada 23 Januari 1907 dan diterbitkan Revue de l’histoire des religions, tahun ke-29, bag. ke-57 (1908), 60-80. Cf. André Wink, Al-Hind: the Making of the Indo-Islamic World (1991), jilid 1, hlm. 85: “Then, considering that the trade route went via Gujarat and Malabar, Snouck Hurgronje and others concluded a South-Indian origin”.
[13]C.S. Hurgronje, “De Islam in Nederlandsch-Indie,” Verspreide Geschriften, jilid 4, bag. 2, hlm. 364.
[14] D.J. Pijnappel, “Over de kennis, die de Arabieren voor de Komst der Portugeezen van den Indischen archipel bezaten,” BKI 19 (1872), hlm. 135-158.
[15] J.P. Moquette, “De eerste vorsten van Samoedra-Pase (Noord Soematra),” Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indië(1913), hlm. 1-12;idem, “De Graftsteenen te Pase en Grisse vergeleken met dergelijke monumenten uit Hindoestan,” Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde (TBG)54 (1912), hlm. 536-53;idem, “Fabriekswerk,” Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (VBG), LVII (1920), 44.
[16]R.A. Kern, “De Verbreiding van den Islam”, dalam Geschiedenis van Nederlandsch-Indië, ed. F.W. Stapel (Amsterdam: Joost van den Vondel, 1938), jilid 1, hlm. 313 = The Propagation of Islam in the Indonesian-Malay Archipelago, ed. Alijah Gordon (Kuala Lumpur: MSRI, 2001), hlm. 30: “So it was in Cambay where lived the co-religionists, to whom one turned for such matters, where the ties of trade with India led, and from where Muslim merchants brought Islam to the Archipelago”; H. J. van den Bergh, H. Kroeskamp, Prijohutomo, dan I.P. Simandjoentak, Asia dan Dunia sedjak 1500: Sedjarah Umum dalam Bentuk Monograph (Jakarta: J.B. Wolters, 1954): “Kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa agama Islam jang masuk ke Indonesia itu sesungguhnja berasal dari Gudjarat”; Abbas Hassan, Sedjarah Tanah Air Kita Indonesia untuk Sekolah Rakjat (Medan: Madju, 1953): “Selain Malaka mendjadi kota dagang, jang mendjadi tempat berhimpunnja para saudagar, djuga disitu saudagar/mubaligh Islam dari Persia dan Gudjarat sangat giat melakukan penjiaran Islam”; Zuber Usman, Kesusas-teraan Lama Indonesia (Jakarta: Gunung Agoeng, 1963), hlm. 15: “Jang membawa agama Islam kesana ialah saudagar2 dari Gudjarat, sebuah tempat disebelah selatan Bombay. Mereka datang berdagang kesini sambil mengembangkan agamanja”; Muhammad Usman el Muhammady (Teungku), Iman dan Islam: Kuliah (Jakarta: Pustaka Agus Salim, 1963): “Islam datang ke Malaya tidak langsung dari pusatnja, tetapi dari Gudjarat, Persia, India dan Hadarmaut. Kedatangannja di Indonesia dan Malaya dengan perantaraan saudagar musafir.Bukan datang special atas initiatip zending jang teratur”; Theodor Müller-Krüger, Sedjarah Geredja di Indonesia (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1966), hlm. 16: “… terutama dari India Barat ialah Gudjarat, merekalah jang menjiarkan agama ini, ketika mereka dapat memasuki istana-istana”; Th. van den End, Ragi Carita 1: Sejarah Gereja di Indonesia th. 1500 – 1860-an (Jakarta: Gunung Mulia, 2007), hlm. 20: “Pada abad ke-13, suatu agama lain lagi mulai memasuki Indonesia melalui jalur perdagangan. Enam ratus tahun sebelumnya Islam telah merebut Arabia, Mesir dan Persia.Pedagang-pedagang di wilayah itu memeluk agama yang baru itu dan membawanya ke pelabuhan-pelabuhan di India Barat, khususnya Cambay, di Gujarat. Islam mulai tersebar di sana sejak abad ke-9, dan berkuasa pada abad ke-13. Dari Gujarat, saudagar-saudagar yang beragama Islam mulai menyebarkan agama itu di Indonesia pula”; Rosihan Anwar, Sejarah Kecil “petite histoire” Indonesia (Jakarta: Kompas, 2009), jilid 2, hlm. 98: “Perdagangan laut yang mewujudkan kejayaan Majapahit akhirnya menghancurkan Majapahit. Sebab, saudagar-saudagar, para pelaut, dan orang-orang ke-ramat dari Gujarat dan Persia membawa ke pelabuhan-pelabuhan di pantai Laut Jawa sebuah agama baru yang bersifat egaliter, yakni Islam.”
[17]G.E. Marrison, “The Coming of Islam to East Indies,” JMBRAS 24/1 (1951), hlm. 31-7.
[18]The Suma Oriental of Tomé Pires: an account of the East, from the Red Sea to China, written in Malacca and India in 1512-1515; and, The book of Francisco Rodrigues: Pilot-Major of the armada that discovered Banda and the Moluccas: rutter of a voyage in the red sea, nautical rules, almanack, and maps, written and drawn in the east before 1515, edited by Armando Cortesao, 2 jilid (New Delhi: Asian Educational Services, 1990): “In the island of Sumatra (Çomotora) most of the kings are Moors and some are heathens” (hlm. 137) selanjutnya: “Pase used to have heathen kings, and it must be a hundred and sixty years now since the said kings were worn out by the cunning of the merchant Moors there were in the kingdom of Pase, and the said Moors held the sea coast and they made a Moorish king of the Bengali caste, from that time until now the kings of Pase have always been Moors; except that up till now they have been unable to convert the people of the interior ; yet in these kingdoms there are in the island of Sumatra, those on the sea coast are all Moors on the side of the Malacca Channel, and those who are not yet Moors are being made so every day, and no heathen among them is held in any esteem unless he is a merchant” (hlm.143).
[19]S.Q. Fatimi, Islam comes to Malaysia (Singapore, 1963), 14-18 dan 23.